Doa

Kemarin aku berdoa pada Tuhan

Agar dijadikannya aku manusia

Agak kurang waras rasanya

Namun ya ini

Sebuah doa dari seorang penentang arus

Yang berpikir semestanya hewan semua

*

Lagi gumam-gumamin liriknya Sting – Englishman In Newyork, lagu yang sempat disebut Andrea Hirata yang saya lupa entah di Laskar Pelangi atau Edensor. Enggak tau deh kenapa lagu itu yang tiba-tiba berdengung sendiri di telinga pas nulis puisi ga jelas ini.

I’m an alien, I’m a legal alien, I’m an Englishman in Newyork~

Newyork, United States. He don’t drink coffee he take tea, dear... Dear? Dear siapa? Ohiya lupa, british kan sekonyongnya aja manggil stranger pake dear. Atau darling, atau luv. Ramah sekali ya. He? Sampe sekarang penasaran sosok pria Inggris yang nyasar ke Amrik ini kaya gimana. Fiuh.


Yang jelas dia nentang arus. Ya gak? Ya gak? Iyain ajadeh.

Renungan Di Kereta

Image from: Google
Hampir ketinggalan kereta
Berat rasanya melangkah meninggalkan kota paling mudah dirindukan sedunia
Meninggalkan delapan manusia-manusia kecil yang menyenangkan, tiap hari membangunkan tidur dengan suara pertengkaran-pertengkaran kecil dan ocehan sayup tak jelas, meminta peluk dan jalan-jalan
Sampai jumpa lagi keluargaku

*

Ada sebuah cerita di persinggahan yang namanya jadi lagu ini
Cerita tentang perpisahan kesekian
Rindu yang akan ada atau tidak, hadir atau enggan, merekah atau layu
Tentang isak diam-diam dari balik jendela kereta yang mulai melaju

*

Di gerbong ini tak ada yang menjadikannya sebagai tujuan akhir
Ia hanya jadi persinggahan
Kasihan

*

Andai kereta ini singgah sedikit lebih lama
Aku ingin melarikan diri sebentar ke Simpang Lima
Walau tak sebesar ingin ke Eiffel
Kapan-kapan kau kudatangi ya
Tunggu disitu
Waktuku belum ada

*

Orang-orang tertidur pulas
Dua anak kecil meniup peluit mainan dan tertawa-tawa
Berisik
Namun mereka lucu sekali (tak ada anak kecil yang tak lucu)
Tidak mau tau apa semua orang marah karena kegaduhan yang mereka lakukan, mereka tetap bermain
Bahagia
Jauh beda dengan dewasa, terkungkung aturan-aturan
Serta penghakiman antar manusia.


(Tugu Yogyakarta-Solo Balapan-Nganjuk-Kediri-Tulungagung-Blitar-Kepanjen-Malang Kotalama-Malang,  9-10 Agustus 2014)

Late Post: Blog's 3rd Anniversary

Mungkin tulisan-tulisan saya nggak layak disebut puisi dan semacamnya, namun saya harus menganggapnya begitu karena hanya itu cara buat saya menghargai rasa suka nulis. Mungkin tulisan-tulisan saya nggak ada yang memahaminya dan nggak punya makna buat yang memiliki kemampuan menulis lebih, namun sesungguhnya apa yang udah tertulis cuma buat menuangkan rasa. Saat nulis, saya nggak peduli apapun, diksi, rima, dan lainnya. Saya sombong saja menganggap siapapun yang membaca mengerti apa yang saya rasakan dan alami.

Siapapun ia, siapapun yang berbaikhati membaca tulisan saya, terima kasih banyak ya. Saya berharap suatu saat bertemu orang-orang itu, yang membaca dan mengerti, bahkan siapa tau melewati hal yang sama. Kalau saat itu datang, saya bakal jadi orang paling bahagia di bumi.

Saya dengan segala keterbatasan mencoba untuk mengabadikan hidup dalam tulisan pun gambar. Mencoba membuatnya terlihat baik-baik, membuat hal-hal kecil menjadi suatu keindahan besar. Saya nggak terlalu peduli seberapa banyaknya yang merasa aneh, heran, dan bahkan kesal saya tak pernah absen membagikannya.

Karena, semua ini semata-mata hanyalah cara saya menghilangkan sepi dan berekspresi.

Selamat ultah yang ketiga tahun blog tercinta :)

- 28 Juni 2014

(Habis ngebaca http://febiolaaditya.blogspot.com/2012/07/satu-tahun-untuk-tulisan-feby.html tulisan buat utah blog yang pertama, waktu itu namanya masih Tulisan Feby, wish nya gak jauh beda ehehe. Wih ga kerasa udah 3 tahuuun, semoga semakin produktif. Aamiin...)

Salam senyum,

Feby.
I love this pic. Like really. Makes my busy and overthinking mind calm down again.

Mengikuti Arus

Saat Ujian Tengah Semester 4 lalu dalam mata kuliah Cultural Studies saya diharuskan menulis artikel tentang Dekonstruksi. Kecintaan saya terhadap musik membuat saya langsung ingin menulis tentang musik underground, kutub lain terhadap musik mainstream. Yang saya tahu mengenai penikmat kutub underground itu berupa sekelompok orang-orang yang hadir di gig sebuah band musik yang tidak terkenal tapi ‘ada’ juga yang suka. Dan mereka ini kemudian menamai diri sebagai ‘anti’mainstream.

Memberontak. Menurut saya dekonstruksi istilah kasarnya begitu. dan pelaku-pelakunya adalah si pemberontak. Para pelaku dekonstruksi mencoba melakukan enlightment atau pencerahan, bahwa ini lho yang dikejar-kejar orang saat ini dan ini lho kita punya yang lebih keren dan lebih bisa membuatmu menjadi orang keren. Suatu alternatif. Hollywood, kini tak lagi menampilkan sosok wanita berkulit hitam sebagai golongan terbelakang dan tak penting saja kini, malah mereka kini menjadikan sosok wanita berkulit hitam sebagai pemeran utama yang notabene-nya harus cantik, dan kita tahu definisi cantik bagi Amerika adalah berkulit putih, tubuh semampai, berambut panjang dan pirang. Lupita Nyong O adalah salah satunya, ia berasal dari Kenya dan tahun 2014 adalah tahunnya, ia dipuja dan kebanjiran penghargaan.

Kembali ke musik underground, saya menempatkan aktor-aktor dibalik musik ini sebagai pemberontak dan para penikmatnya adalah orang-orang yang tercerahkan.

Pernah mendengar tentang band Koil? Koil adalah band beraliran rock yang berasal dari Bandung, berdiri pada tahun 1993, dengan formasi Otong (vokal), Doni (gitar), Imo (Bass) dan Leon (Drum). Sejak awal berdiri saja mereka sudah melakukan hal-hal tidak lazim pada masa itu, sebut saja memasukkan unsur sampling dalam musik mereka seperti suara-suara yang ada di sekitar kita, suara aliran air, besi yang dipukul, dan sebagainya, lirik-lirik yang lugas menunjukkan kegelapan dan kekosongan hati serta lirik berbahasa Indonesia yang jarang digunakan dalam musik rock, memasukkan unsur tarian dan fashion dalam aksi anggungnya, serta yang paling ‘underground’ sekali tingkahnya adalah mendistribusikan album mereka  lewat jaringan distro-distro di Jakarta dan Bandung , pemesanan lewat pos, dan beberapa toko kaset.

Ya, menjadi rebel itu menjual.

Buktinya Koil dipuja saat itu, gig mereka selalu padat oleh penggemarnya (dan kita tahu konser band underground itu padatnya seberapa? Intinya kita masih bisa bernapas di lautan penonton itu.) Sampai pada akhirnya penggemar mereka meluas, label rekaman besar pun mereka dapatkan. Dan tak perlu terkejut, kutub underground menjadi usang pada nama mereka. Koil menjadi band musik mainstream.

Namun, ada yang menarik dalam band dengan lirik-lirik lagu lugas ini. Saya pernah membaca dalam kolom komentar blog bernama Music Blur dengan artikel berjudul Pemberontakan Musik Sudah Mati, satu hari mereka tampil di Bandung Berisik, hari lainnya dengan congkak tampil di Dahsyat. Iya, Dahsyat. Acara musik super mainstream dengan segala kealayan yang ada didalamnya. Mereka tanpa ragu, hanya bermain. Dan kemudian dalam salah satu interview dengan cuek Otong sang vokalis berkata, “Idealisme kami hanya sebatas Nominal”.

Ketika antimainstream menjadi mainstream. Adalah bahwa Koil tetaplah Koil, band underground yang usang dimakan jaman dan segala tuntutan untuk bertahan di dalamnya. Bahwa untuk menjadi pemberontak tidaklah mudah, dekonstruksi tetaplah sebuah alternatif, yang hanya disinggahi sepintas lalu.

Ini adalah semua pikiran yang ada di kepala saya sesaat setelah dosen saya memberi tugas UTS ini kepada kami. Hasil dari pernyataan bahwa saya mencintai musik, mengobak-abik Google mendalami musik underground, hingga akhirnya ‘mengenal’ Koil dari artikel-artikel berita dan musik.

Namun pada akhirnya, saya tidak jadi menuliskannya. Kenapa? Saya takut salah, padahal sudah konsultasi dengan dosen tersebut. Saya hanya harus mencari subjek lebih jelas untuk dibahas dalam tulisan itu. Tapi karena teman-teman saya tidak ada yang membahas subjek dekonstruksi yang mirip seperti apa yang sudah saya pikirkan. Pada akhirnya saya berpikir lagi, daripada salah, mendingan saya ngikut yang banyak dibahas aja dan sudah pasti benar seperti yang teman-teman saya lakukan. Akhirnya saya menulis dekonstruksi untuk mencerahkan pemikiran tentang logat Medok yang dianggap mempengaruhi kemegapolitanan suatu kota.


Memang, lagi-lagi mengikuti arus itu yang paling aman.