Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

It's Not About The Blue Fire

People coming here to see the Blue Fire, they said that is the best part of Ijen Crater. The Blue Fire was formed by the sulphuric gas and the high temperature, if you can reach the top of the mountain around 1-2 a.m you’re definitly could see it. Unfortunately, when I came here with my friends we took a long time to warmed our body down before started to hike. We reached the top at 5 a.m lol. 


But, no I don’t regret it because it was one of the most meaningful trip for me so far. When I saw a lot of old man carried a sulfur laden basket by hand going up from the crater floor and down back, they also sustain the weight on their shoulder. If we look closely over their shoulders, there are indentations due to the woods used to connected the baskets which always glued to their shoulders to carried them. They earn a lot but it such a dangerous work. 






While looked at their tired face and tanned skin, I suddenly remember my father. I don’t know how but because maybe eventhough my father didn’t do exactly like them but his job made his skin tanned too and he sweat a lot because he has too work outdoor, under the sun everyday like them.  It made me grateful and appreciated my father more. I was never ashamed about his job and never hide it from my friends. I am proud of him.

This is random tbh, I did this trip a long time ago but tonight, suddenly my mind fly away to my father and I reminisced about this trip. Just a little story but maybe you have this kind of stories too? Like, a certain moment or places you didn't expect before because it has nothing to do with them (it doesn't carried that someone scents, you never visited that before with them, etc) but it makes you think of someone suddenly? I would like to hear your stories too.

Have a good night :)






(Location: Ijen Crater, Banyuwangi, Indonesia.)

Memasuki Dua Puluh Satu

25 Agustus 2015

Dulu saya pernah pikir bahwa saya bakal bisa ngelakuin sesuatu yang besar sebelum umur saya memasuki 20. Namun setelah saat itu datang, saya membuat excuse bahwa hectic nya segala urusan akademis demi menyandang gelar S.Ikom membuat saya wajar tidak mampu memenuhi harapan saya itu. Nyatanya tidak. Setelah memasuki 21 tahun ini saya baru sadar bahwa yang menghambat saya melakukan suatu hal besar adalah rasa malas dan takut. Saya malas untuk memulai dan saya takut mengambil tindakan. Ternyata saya terjebak dalam zona aman, seperti kebanyakan orang saya hanya bisa melihat orang lain seumuran saya telah melakukan banyak hal besar baik untuk dirinya sendiri dan orang lain. Mereka berlari jauh sementara saya hanya diam di tempat, mengayuh sepeda yang rantainya telah lepas. Saya nggak kemana-mana.

Lalu saya bertanya, hal besar apa sih yang begitu gilanya ingin saya raih? Sampai hari-hari saya dipenuhi rasa khawatir, saya sudah umur segini, tidak bisa begini saja, saya rasa saya sangat tidak produktif, kenapa saya diam saja. Begitulah yang ada di pikiran saya setiap hari. Semua itu berujung pada satu ketakutan, saya takut orangtua saya tidak memiliki suatu apapun untuk dibanggakan dari diri saya.

Iya, saya takut kalau hal itu terjadi.

Saya hidup dalam bayangan masa lalu dimana saya harus membuktikan bahwa nanti saya akan sukses ditengah keterbatasan yang sangat susah saya jelaskan dalam tulisan ini. Intinya, ada satu titik dimana saya harus membuktikan ke orang-orang tertentu yang bahkan jika saya ungkapkan nggak akan ada yang percaya bahwa saya memiliki ‘dendam’ sebegitunya terhadap orang-orang tersebut.

Sekarang saya harus melapangkan dada, melakukan sedikit demi sedikit hal berdasarkan prioritas. Saya masih harus berjuang kurang lebih satu tahun lagi agar lulus tepat waktu, masih harus melewati tikungan tajam bernama skripsi. Doa saya di usia ke 21 ini adalah agar satu-satunya penolong, Allah SWT memberikan kemudahan dalam proses melewati tikungan tajam tersebut serta memberikan kekuatan lebih untuk membebaskan diri dari ketakutan-ketakutan yang malah membuat nggak bisa melakukan apa-apa.  Itu saja.

Aamiin.

Ohiya, ulang tahun kali ini saya lewati di kantor tempat magang bersama orang-orang baik yang diberikan Allah SWT untuk membuat saya tersenyum. Mereka ymembuat saya semangat menjalani masa magang yang menjadi salah satu tikungan sebelum skripsi. Saya dihujani doa-doa baik dari keluarga, teman dan sahabat yang sangat saya syukuri keberadaannya di muka bumi ini, setiap tahunnya. Saya diberikan kemudahan oleh Allah SWT dalam segala hal. Untuk itu nggak ada hal lain yang harus saya lakukan selain bersyukur sebanyak-banyaknya, tak pernah berhenti berdoa dan berusaha. Saya sangat bersyukur telah terlahir.


21 tahun ini semoga bermakna.

Pejalan Semesta


Sibayak (2212 Mdpl), 24-25 Januari 2015.

“Jangan mengambil apapun kecuali gambar, jangan membunuh apapun kecuali waktu dan jangan meninggalkan apapun kecuali jejak.”


Sepenggal kutipan yang mungkin tak asing lagi diperuntukkan kepada kita, para pejalan semesta. Sebuah kutipan dengan alam sebagai objeknya. Kutipan yang mengajarkan untuk meluruhkan segala ego dan memaklumi setiap kekurangan, menjelajahi diri lebih dalam dari biasanya untuk menemukan jati yang selama ini tersembunyi, entah itu oleh rasa takut bahkan rasa ternyaman sekalipun. Sebuah kutipan yang mengajarkan bahwa semua yang indah patut dan mutlak untuk ditunggu setelah diperjuangkan terlebih dahulu. Dan kita, kecil, kecil sekali, dibandingkan dengan semesta-Nya yang  kita singgahi.

Renungan Di Kereta

Image from: Google
Hampir ketinggalan kereta
Berat rasanya melangkah meninggalkan kota paling mudah dirindukan sedunia
Meninggalkan delapan manusia-manusia kecil yang menyenangkan, tiap hari membangunkan tidur dengan suara pertengkaran-pertengkaran kecil dan ocehan sayup tak jelas, meminta peluk dan jalan-jalan
Sampai jumpa lagi keluargaku

*

Ada sebuah cerita di persinggahan yang namanya jadi lagu ini
Cerita tentang perpisahan kesekian
Rindu yang akan ada atau tidak, hadir atau enggan, merekah atau layu
Tentang isak diam-diam dari balik jendela kereta yang mulai melaju

*

Di gerbong ini tak ada yang menjadikannya sebagai tujuan akhir
Ia hanya jadi persinggahan
Kasihan

*

Andai kereta ini singgah sedikit lebih lama
Aku ingin melarikan diri sebentar ke Simpang Lima
Walau tak sebesar ingin ke Eiffel
Kapan-kapan kau kudatangi ya
Tunggu disitu
Waktuku belum ada

*

Orang-orang tertidur pulas
Dua anak kecil meniup peluit mainan dan tertawa-tawa
Berisik
Namun mereka lucu sekali (tak ada anak kecil yang tak lucu)
Tidak mau tau apa semua orang marah karena kegaduhan yang mereka lakukan, mereka tetap bermain
Bahagia
Jauh beda dengan dewasa, terkungkung aturan-aturan
Serta penghakiman antar manusia.


(Tugu Yogyakarta-Solo Balapan-Nganjuk-Kediri-Tulungagung-Blitar-Kepanjen-Malang Kotalama-Malang,  9-10 Agustus 2014)

Indonesia Dulu Lah: Bagian V (Jawa Tengah & Bali)

Untuk dua tempat terakhir ini sedikit istimewa menurut gadis itu. Karena sebelum pernah terpikir untuk bisa menginjakkan kaki di dua tempat itu dan sebelum pernah merasakan secara langsung berada di tempat, gadis itu sudah duluan membuat sajak dan memusikalisasikannya. Dan ajaibnya, tidak lama setelah menyajak dan memusikalisasikan tentang tempat itu, si gadis diberi Allah kesempatan (waktu, fisik, dan kegiatan tabung menabung seperti biasa) untuk menginjakkan kaki di dua tempat indah itu. Yogkyakarta yang ngangenin dan Bali yang eksotis.

Gadis itu menggembelkan diri lagi dengan menempuh perjalanan kereta api Malang-Jogja selama delapan jam sendirian. Nekat saat minggu tenang sebelum ujian akhirnya di pertengahan 2013. Ia memasrahkan nasib selama 3 hari di rumah bude yang ia temui saat kecil dulu dan belum pernah bertemu lagi hingga saat itu, juga menggantungkan nasib petualangannya di Jogja kepada sahabat yang digembelinya di Pacitan dulu. 3 hari adalah waktu yang sangat amat singkat untuk mengelilingi Jogja. Tapi ia tak menyesal, setidaknya kepenatannya menuju UAS hilang karna Jogja. Foto itu adalah saat ia kembali ke masa kanak-kanak dengan bermain gelembung sabun di Alun-alun Selatan. Ya, dia mencoba untuk berlari dengan menutup mata ke arah pohon besar fenomenal itu, tapi berhenti di tengah jalan. Entah kenapa.  
Sejauh ini, mungkin menurut gadis itu foto inilah yang paling bagus ia ambil dalam perjalanannya. Ia sangat menyukai foto ini. Candi Borobudur. Dulu ia bertanya-tanya bagaimana rasanya menginjak salah satu dari tujuh keajaiban dunia itu dulu, melihat di TV, buku-buku pelajaran sekolah, serta album foto keluarganya. And there she is. Panasnya edan, pantas Mamanya menyuruh bawa payung.
Djendelo Cafe. Gadis itu tahu tempat minum kopi unik ini setelah membaca novel Bernard Batubara berjudul Kata Hati yang juga difilmkan itu. Ia sangat penasaran bagaimana cozy-nya cafe yang terletak di atas toko buku Togamas jalan Gejayan ini. Ternyata aura di cafe ini benar-benar nyaman dan sangat jadul, mulai dari gaya tulisan di menu, nama-nama menu, perabot, kursi, dan dinding serta lantai kayunya. Recomended.
Malioboro, bro. Ikonnya Jogja. Memang ya, walaupun bolak-balik dikelilingi semalaman gak capek dan gak pernah cukup nikmatin daerah ini. Ala kra project, "Musisi jalanan mulai beraksi~" Gadis itu mengagumi keromantisan dan keriuhan Malioboro. Ia jatuh cinta pada Malioboro dan berjanji suatu saat akan kembali lagi.
Gadis itu melompat dan berpetualang di Bali selama sepuluh hari pada pertengahan 2013 sesaat setelah kembali ke kampung halaman. Hura-hura? Boros? Tidak, apalagi kalau bukan menggembelkan diri di rumah sahabat yang tinggal disana bersama Ibu yang rajin masak dan alhamdulillah memiliki kendaraan untuk kami pakai berpetualang. Cak cak cak cak. Gadis itu mengetahui tari kecak sebatas suara itu saja, padahal banyak sekali harmonisasi suara yang digumamkan saat tarian ini berlangsung. Satu hari dihabiskan dengan menjelajahi Ubud yang keseniannya kental sekali, daerahnya keren unik, dan aaaah Ubud is good pokoknya. Penjelajahan di Ubud diakhiri dengan menonton pertunjukkan Kecak and Fire Dance di Pura Dalem Ubud. Untuk nonton pertunjukan ini delapan puluh ribu harus rela keluar. Tapi gak sebanding lah dengan penghargaan kita buat budaya Indonesia. Waktu gadis itu, sahabatnya, pacar sahabatnya, dan adik sahabatnya itu menonton hanya merekalah orang Indonesia yang ada disana, selebihnya turis asing semua. Ckckck. Ohiya jangan lupa untuk membaca kertas naskah pertunjukan itu ya, kalau nggak ya nggak bakal ngerti ceritanya. Over all, Ubud pecah banget.
Monkey Forest, Ubud. Jangan make aksesoris apapun waktu jelajahin daerah ini bahaya. Gadis itu harus rela lagi tiga puluh ribu terkuras untuk melihat aksi monyet-monyet lucu disana. Tapi sekali lagi, terbayar dengan keseruan-keseruan yang terjadi di dalamnya. Lucu.
Museum Renaissance Blanco. Gadis itu dulu berlangganan majalah Gadis, dan pernah membaca artikel tentang Antonio Blanco dan Mario Blanco anaknya. Dan gadis itu tak pernah menyangka, ia bisa masuk dan melihat langsung lukisan bapak dan anak itu langsung di museumnya. Tidak diperbolehkan memoto lukisan disana. Saat masuk kita langsung disambut dengan penjaga yang menawarkan kita untuk berfoto bersama burung jinak disana. Lagi-lagi, Ubud benar-benar menguras uang, tiga puluh lima ribu harus rela gadis itu keluarkan untuk menikmati pelukis yang sangat ia jatuhi rasa penasaran itu. Di akhir penjelajahan di museum kita disuguhkan dengan koleksi barang-barang antik (sudah diperbolehkan foto) dan bonus segelas es teh di restoran yang harga makanannya wow sekali. Museum Blanco sejauh itu benar-benar keren.
Perjalanan gadis itu selanjutnya semakin eksotis dengan kejutan dari Pantai Balangan. Biru dimana-mana. Hijau sepanjang mata memandang. Dan di pantai inilah, gadis itu mendapatkan sunset pertamanya..
 Sunset kedua di Pantai Kuta. Setelah berkeliling di Beachwalk.
 Sunset ketiga di Pantai Padang-padang. Eksotis.
 Singgah sebentar di Pantai Pandawa.
Dua teman berjalan gadis itu susah sekali bangun pagi. Dan pada hari kedelapan akhirnya gadis itu baru bisa dapetin sunrise di Pantai Sanur.
Pemandangan bonus di Pantai Pandawa. Patung-patung kapur.
Pertama kali memancing di Pemancingan Lestari. Sepuluh ribu satu pancing beserta umpannya. Menyenangkan ternyata memancing itu.
 Pura Agung Tanah Lot. Sedang surut so that girl could see the 'holy' things. Ada suasana magis di Pura ini.
 Pura Dalem Agung.
Dan terakhir, Uluwatu. Allah emang keren.

Sajak gadis itu?
Yogyakarta: https://soundcloud.com/febiolaaditya/yogyakarta
Bali: https://soundcloud.com/febiolaaditya/bali-pembacaan-sajak-oleh
Terimakasih ya untuk yang sudah mendengarkan sejauh ini :)

Iya gadis itu adalah saya. Saya masih pengen banget jelajahin Indonesia sampai ke Papua sampai ke pelosok yang saya sendiri nggak pernah bayangin sebelumnya. Karena Indonesia itu kaya banget, alamnya budayanya, orang-orangnya. Semua berawal dari Dwiwarna, hingga kini saya bisa ngelihat lebih dari dua warna, saya ngeliat pelangi. Pengen ngeliat ciptaan-Nya yang lebih keren lagi. Nabung, nabung, nabung. Karna tiap ada kemauan pasti ada jalan kan ya? Ehe. Bismillahirrahmanirrahim.... Indonesia dulu lah ;)

Indonesia Dulu Lah: Bagian IV (Jawa Timur)

Jawa Timur = surganya para petualang. Seriously, buanyak sekali tempat-tempat yang parah kerennya di provinsi ini. Gadis itu nggak salah memilih tempat kuliah memang, janji dalam hatinya untuk berpetualang dimudahkan dengan tinggal di satu kota kecil romantis bernama Malang beserta teman-teman dengan kegilaan akan berpetualang yang sama dengannya. 

Gadis itu akan membuka cerita dengan sunrise dari atas Villa Putih kota Batu, pada pagi hari saat ia baru membuka mata dan langsung berlari ke arah balkon mendapati sunrise seindah ini. Gadis itu sudah menjadi fotografer amatir sekarang, dibantu dengan aplikasi Instagram. Ha. Ha.
Menggembelkan diri lagi dengan menumpang selama beberapa hari di rumah seorang teman di Surabaya pada akhir 2012. Gadis itu tidak menyangka Surabaya sepanas itu. Namun ia terkagum-kagum dengan tata kota Surabaya yang benar-benar modern. Di Tugu Sura dan Baya ini, ia seperti sedang berada di televisi. Karna ia melihat Surabaya sebatas tugu ini saja di layar kaca.
Melompat ke awal tahun 2014. Gadis itu mendapati dirinya tersesat di suatu tempat dengan pemandangan luar biasa. Nama tempat itu adalah Taman Nasional Baluran, Banyuwangi. Keindahan tempat itu tidak cukup digambarkan dengan satu foto, jadi ia hanya mampu menunjukan poster yang terlihat sebelum memulai petualangan disana. Complete area to the explorer. Berbagai macam satwa (mostly, monkey), padang savana, gunung yang super keren, tempurung kepala banteng, sampai pantai? Ada. Ohiya, usahakan naik mobil ya kalau ingin kesini, perjalanan masuknya berpuluh kilometer dengan kondisi jalan yang lumayan parah.
Kembali ke akhir 2012, gadis itu singgah ke Taman Bungkul. Dan kembali lagi ke taman indah ini pada pertengahan 2013, dengan tujuan selanjutnya bersama teman-teman gilanya = Gang Dolly (bener nggak sih tulisannya?) Seriously, mereka melewati gang tak terdefinisikan itu dua kali. DUA kali karna penasaran. Mereka di dalam mobil saudara-saudara, tenang saja. Edan.
 Awal 2014, pada suatu sungai di Lawang. Gadis itu tergila-gila akan suasana tenang disana.
Selecta, terletak di kota Batu. Taman bunga yang luas, pemandangan persawahan dari atas, kolam renang, aquarium raksasa, tempat membeli oleh-oleh. Pertengahan 2012 dan akhir 2013 gadis itu menginjakkan kaki di tempat keren ini. Biaya masuknya, sediakan saja dua puluh ribu per orang. Entah sekarang sudah berapa gadis itu pun lupa.
Taman Baca Amin terletak di kota Batu. Tepat di sebelah Jawa Timur Park I. Percayalah tempat ini benar-benar keren parah. Tenang dan nyaman. Cocok untuk nulis. Yang kurang disini: buku sastra (karna kebanyakan buku anak), kopi, dan colokan. Taman Baca ini dibangun dari kontainer warna-warni yang ditumpuk sedemikian rupa, dengan kursi-kursi yang strategis untuk membaca karena disuguhkan dengan balkon plus angin sejuk dan pemandangan gunung. Gadis itu memfavoritkan tempat ini.
Pacitan, lebaran 2012. Ia menggembelkan diri lagi di rumah seorang sahabatnya selama lima hari untuk merayakan lebaran bersama keluarga sahabatnya itu. Enough said, gambar ini cukup menggambarkan keseluruhan petualangan di Pacitan mulai dari pantai-pantai nggak waras yang seperti tanpa penghuni dan terisolir padahal indahnya luar biasa, menjaga warung, naik pick up kemana-mana, melihat kumpulan kapal nelayan di pantai yang sedang pasang, melewati kediaman Pak SBY dulu, dan lainnya. Iya, gadis itu sedang tergila-gila dengan Perahu Kertas makanya posenya seperti itu. Abaikan.
Paiton, pembangkit listrik Jawa-Bali. Percayalah, memandangi Paiton saat malam hari itu, cantik sekali. Sangat. Gadis itu sudah berulang kali melewati Paiton namun tetap berulang kali pula kekagumannya tidak luntur.
Pantai Bajulmati, Malang Selatan. Katanya sih Pantai Bajulmati itu ada dua, nah yang gadis itu singgahi pertengahan 2013 ini adalah yang Bajulmati satu. Entahlah. Anyway, waktu gadis itu datang kesana bagaikan pantai pribadi, sepi...... Pasirnya nggak putih, tapi hitam. Ada kapal-kapal nelayan yang lewat, dan bisa minum air kelapa dengan santainya kaya foto di atas. Sluuurrrppp.
Kota Batu dan Malang dari atas gunung yang katanya namanya Gunung Banyak. Tempat ini lebih dikenal dengan nama Paralayang sih. Gadis itu empat kali tersesat di sana.
Kebun Teh Wonosari, terletak di Lawang. Tempat ini menjadi tempat langganan untuk mendinginkan kepala gadis itu selepas ujian akhir bersama teman-teman senasib sepenanggungannya.
Kawah Ijen, Bondowoso. Gadis itu mendaki di gunung Ijen ini di akhir tahun 2013. Pendakiannya 2 jam an dan medannya curam, berbatu-batu, dan banyak pembawa batu belerang yang naik turun, kalo kita nggak hati-hati kemungkinan muka atau kulit tangan bisa kegesek atau nyenggol panggulan batu belerang yang mereka bawa. Pokonya medannya berat banget, sepatu gadis itu rusak disana untung aja temannya ada yang bawa sendal gunung. Fiuh~ Lihat asap putih tebal itu kan? Kalau masih gelap asap itu warnanya biru, jadi kaya ada api biru gitu dari dalem kawah dan itu keren banget, dikenalnya sih Blue Fire. Sayangnya gadis itu nggak kedapetan ngeliat karena macet dijalan dan kepagian sampai kawah, tapi tetap terbayar dengan desainnya Allah sepanjang perjalanan dan pastinya kawahnya itu. SubhanAllah memang...
Jawa Timur Park I, kota Batu. Dufannya Malang lah. Masuknya juga lebih murah ahaha. Gadis itu menaklukan semua wahana disana bersama keluarga barunya (kelas C.IK). Jatim Park ada dua, yang Jatim Park 2 isinya ada Batu Secret Zoo, Eco Park, dan hotel yang desainnya seperti pohon. Cool.
Pantai Goa Cina, pertengahan 2013. Terletak di Malang Selatan. Arus pantai ini deras banget, beda jauh sama Bajulmati yang tenang. Susah untuk nyebur disini. Lebih enak buat foto-foto aja. Pemandangannya, pecah men. Katanya sih di dalem batu itu goa, terus ada yang bertapa disana, orang Cina. Entahlah.
Bromo. Enough said, ini ikonnya Jawa Timur kayanya. Gadis itu sudah tersesat disini dua kali. Percayalah, pemandangan disana jauh lebih indah dari foto yang terambil dari atas motor yang sedang jalan ini.
Berburu candi! Akhir 2012, menemukan candi Sumberawan di Singosari. Jalan masuknya 200 meter, dan kita disuguhkan dengan pemandangan pohon-pohon tinggi seperti di Twilight dan sungai dengan air jernih.
Kembali ke Surabaya, berhubung saya menggembelkan diri pada teman saya yang tergila-gila dengan CLS Knights jadilah saya ikut dia nonton pertandingan yang ternyata seru juga, lumayan ngeliat cowok-cowok keren main basket dan teriak-teriak gajelas gitu, di DBL Arena langsung men! Gadis itu terharu~
Kembali berburu candi, ini adalah Candi Singosari. Gapake jalan lagi, langsung parkir, dan bisa naik dan masuk kedalam candinya. Keren sekali peninggalan kerajaan ini.
Batu Night Spectacular. Penuh lampion berbagai bentuk, gadis itu suka sekali dengan lampion bentuk menara Eiffel. This place is an excelent place to you and your lover guys. 
Alun-alun Batu. Entah berapa kali gadis itu terdampar disini. Bianglala nya indah. Tamannya indah. Semua yang ada disana indah. Ada beberapa lampion seperti di BNS juga, tapi kalau disini kita menikmatinya gratis, di BNS berbayar (15 ribu last time I'm going there).
Air Terjun Madakaripura, Probolinggo. Jangan melongo ngeliat foto ini ya, iya emang sekeren itu ciptaan Allah. Gak paham lagi sama air terjun ini. Jalan ke dalam harus siap basah, karna ada hujan abadi (semacam air terjun terpisah-pisah membentuk hujan di satu spot, mesti pake sendal atau apapun yang nggak gampang copot keseret arus sungai karena harus ngelewatin beberapa aliran sungai yang deres, dan harus siap terkagum-kagum. Sehari sebelum Idul Adha tahun 2013 gadis itu habiskan disana dan bermalam takbiran di alun-alun kota Probolinggo bersama teman-teman baru yang menyenangkan.
Agrowisata Batu. Mau petik apa gadis itu di pertengahan 2012 nya? Jambu, apel, stroberi?

Gadis itu pernah menuliskan perjalanannya dengan lebih lengkap disini:
1. http://febiolaaditya.blogspot.com/2012/10/my-journey-bagian-1-brawijaya-dan-jp.html
2. http://febiolaaditya.blogspot.com/2012/10/my-journey-bagian-2-batu_4.html
3. http://febiolaaditya.blogspot.com/2012/10/my-journey-bagian-3-bandung-jakarta.html

Jawa Timur, gadis itu menyimpan harapan untuk mendaki Mahameru. Sampai jumpa di bagian kelima, Jawa Tengah & Bali!