Bersabar dan ikhlaslah dalam setiap langkah perbuatan
Terus-meneruslah berbuat baik, ketika di kampung dan di rantau
Jauhilah perbuatan buruk, dan ketahuilah pelakunya pasti diganjar, di dunia atau di akhirat
Bersabarlah menyongsong musibah yang terjadi dalam waktu yang mengalir 
Sungguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impiankan tercapai
Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu
Sungguh kemulian itu ada dalam perantauan di usia muda
Singsingkan lengan baju dan bersungguh-sungguhlah menggapai impian
Karena kemuliaan tak akan bisa diraih dengan kemalasan
Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan
Karena debat kusir adalah pangkal keburukan


-Sayyid Ahmad Hasyimi-


Penarik Layang-layang


Penarik layangan yang tinggi sekali, siapa gerangan engkau?

Siapapun kau pastilah orang yang sabar dan tak kenal lelah. Berkawan karib dengan silau dan garis-garis benang yang membelesat di jarimu.

Sedang aku, kejar-kejaran dengan waktu dan berkarib dengan keputusasaan.

Aku mencari-cari. Layanganmu benar-benar tinggi sekali. Pastilah kau teramat jauh.

Aku berlari-lari. Jika bertemu nanti. Boleh kita berkenalan, Tuan?

Senja di Balangan


Langit mulai bersiap. Di tubuhnya ada awan yang masih enggan bergumpal dengan bentuk yang namanya tak kupahami. Ada matahari yang masih malu-malu dipandang. Padahal komando langit sudah jelas agar mereka bersiap tampil.

Di Balangan bibir-bibir kering pantai rindu akan kecupan senja. Yang mengulum lidahnya dalam-dalam pada ombak yang menjadi jingga.

Di Balangan sebuah tebing berdiri kokoh, dengan lapang dada menjadi kursi-kursi penonton gratis.

Angin berdesir-desir di telinga karang, bagai peluru, melesat tak terjangkau pandangan pun pendengaran. Sembunyi-sembunyi mencoba menyampaikan pesan langit bahwa pertunjukan dimulai.

Ranting-ranting menyerupai pohon tanpa daun membiaskan cahaya senja yang jadi pembuka. Membuat bayang-bayang jadi lebih nyata, penonton berubah jadi siluet-siluet jika diabadikan.

Dentaman laut pada karang, gesekan senar pesisir, dan dirijen dari ujung langit bersatu menciptakan orkestra yang meriah.

Gumpalan awan indahnya sudah luar biasa walau namanya entah apa. Matahari kini percaya diri walau langit perintahkan ia untuk segera sembunyi.

Sementara dari ujung tebing, seorang penonton berteriak-teriak, “Lagi! Lagi!” Padahal komando langit sudah bermaksud lekas usai. Ia bilang ini senja pertamanya.

Langit menyadari bahwa pertunjukan kali ini terlalu singkat. “Datanglah lain hari dan ingatlah, selamanya, pertunjukan ini tetap gratis untukmu.” Pertunjukan selesai.

Sesungguhnya ia tak ingin pulang, tak ingin selesai, dan tak tahu kapan akan kembali. Selepas pertunjukan senja di Balangan kala itu, ia hidup dengan janji langit.

Masih Pantas?

Aku sedang berdiri di hadapan cermin dalam kamar berpenerangan sempurna, udara sejuk, dan melihat raga yang tanpa cacat. Namun otakku kosong dan rasanya lelah sekali untuk melangkah.

Bayangan dari cermin berontak, ia memaksa dirinya melawan bayangan nyata yang harusnya ia ikuti.

“Kau ratapilah senja sampai bertekuk lutut, malam akan tetap larut. Percuma.” Ia tiba-tiba berbicara.

Aku, si bayangan nyata itu terkejut. “Berhentilah mengeluh mulutmu itu. Tidakkah kau tahu di belahan bumi sana, mereka; manusia seperti kau bahkan anak kecil yang ringkih tubuhnya, lebih menderita darimu. Disini tiap pagi sanggup kau hirup udara segar dengan bebas sedang disana bernapas pun ditahan-tahan. Berkoar dan pecicilan disini seenaknya, disana kau jadi orang gagu. Pokoknya sebut saja apa yang sedih-sedih, semua ada disana. Bapak Ibu mati di depan matamu, dikhianati, ditinggalkan, diabaikan seolah-olah (dan memang) sekali sentil kau langsung mati, perutmu membesar kelaparan, buta matamu, buntung tangan dan kakimu, cacat. Apalagi?“

Ia melanjutkan, “Jadi masih pantas kau malas? Masih pantas kau mengeluh? Jadilah sebaik-baiknya manusia dengan selalu bersyukur dan jangan pernah hilang harapanmu.”

Bayangan itu kembali mengikutiku dalam sekejap.

*

Sesungguhnya musuh paling besar saat ini adalah rasa malas. Ya Allah tolong kuatkan tubuh ini untuk terus melangkah..