Saya yang Sibuk dan Maret yang Penat

Maret memasuki hari terakhirnya dan saya baru mampu menulis segala kepenatannya di hari terakhir ia akan berlalu. Kalau boleh, ingin rasanya men-skip Maret langsung ke April. Ini jadi bulan paling berat yang pernah saya lalui setahun ini. Mungkin, kita lihat saja nanti. 

Mengenai apa saja yang terjadi bulan ini, hmmm harus diingat-ingat kembali. Apa aja ya? Produksi film, tugas-tugas yang seakan mati satu tumbuh seribu, dan organisasi yang mulai menyuguhkan kesibukannya. 

Sekarang saya mulai jarang menulis sajak, puisi, dan cerpen. Saya mulai berpikir untuk menulis kreatif. Apa itu menulis kreatif? Kalau dijelaskan mungkin panjang banget ya, tapi singkatnya gini, saya kepengen nulis semua yang ada di pikiran saya tentang segala sesuatu dari sudut pandang saya dengan gaya menulis yang 'saya' banget. Jujur, sampai sekarang saya masih gak tau gaya nulis saya itu gimana. Untuk menggunakan kata 'saya' aja masih agak kaku, saya lebih suka men'saya'kan diri dengan yla (baca: yola) tapi ya itu gak terlalu saya pusingkan. Yang pasti saya mencoba untuk mendisiplinkan diri menulis, karna saking tidak pernah lagi menulis, jari-jari jadi kaku, otak mandek entah karna apa, dan saya gak mampu nulis sajak lagi. Rasanya kaya apa ya, kehilangan jati diri mungkin. Ya, mulai sekarang saya harus disiplin nulis sajak lagi, dan mencoba menulis kreatif, mulai dari... Sekarang.

Sekarang saya juga sudah mulai mencoba belajar menulis script film pendek. Masuk ke organisasi film di fakultas membuat saya tertarik jadi penulis script, ya berhubung memang cuma itu yang 'mudah-mudahan' saya mahir di dalamnya. Sudah 2 script yang saya tulis, satunya sudah rampung dengan judul 'Terpisah' dan belum diupload ke Youtube karna koneksi internet yang menyebalkan, satunya lagi masih dalam proses editing, judulnya 'Putar'. Semoga hasilnya memuaskan ya. Amin. 

Masuk ke organisasi musik di fakultas membuat masalah saya bertambah. Kenapa? Saat diklat beberapa hari lalu, ada kata-kata dari kakak kelas yang terngiang di otak saya sampai sekarang. "Masuk organisasi itu artinya kita menambah masalah dalam hidup." Dan itu benar. Kalau kita nggak terikat sama organisasi itu ya kita anteng aja, jadi 'kupu-kupu', kuliah-pulang-kuliah-pulang. Kita bakal selalu ada di zona nyaman, takut terus sama sesuatu yang baru, hidup bakal flat. Masuk organisasi kampus itu emang bikin pusing, masih ikut dua aja udah dipusingin sama hal paling klise. Bagi waktu. Jadwal kuliah yang gak kondusif+rapat+rapat. Sampai lupa makan nasi, lupa mandi, dan lupa nyuci nyetrika baju. Gambaran besarnya begitulah. Tapi sejauh ini menyenangkan sih.

Olahraga. Penting! Entah darimana lagi cara badan ini ngeluarin penyakit-penyakit yang memendam didalamnya kalau nggak dari olahraga. Masalahnya buat orang yang malas olahraga kaya saya yang cuma suka berenang dan voli. Berhubung di Malang dingin jadi gaak berani berenang dan voli sedikit yang suka. Ya solusinya? Kebetulan teman-teman pada ngajakin main futsal. Serius. Dan menyenangkan sekali. Kita udah mulai latihan rutin tiap Jumat, futsal cewek loh yaa, gamungkin gabung sama cowok. Haha. *krik*

Dosen semester 2? Hmm gak terlalu buruk, dan saya sedang sedih. Sebab satu-satunya dosen yang paling saya favoritin dengan mata kuliah favorit juga *gak bisa disebut disini nama dan matkulnya ya huaha* gak akan ngajar lagi setelah UTS yang artinya di minggu ini, terakhir dia masuk kelas saya. 

Tiga bulan di 2013 sudah dijalani. UTS sudah di depan mata. Semoga saya bisa melaluinya dengan baik. Doakan yaa.

Goodbye March!

Salam senyuuum.
Feby

Aku Tahu Mereka Menangis

Aku membuka pintu rumah. Hujan deras sudah mengguyur kota tempatku tinggal sejak lahir ini, petir bersahut-sahutan. Aku tak peduli. Yang aku inginkan hanya berdiri di sini, di depan pintu rumah meski cipratan air hujan sedikit demi sedikit masuk dan membasahi lantai rumah. Meski sebenarnya aku takut petir. Aku ketakutan, bajuku mulai basah. Atap rumah hanya mampu menampung hujan sekedar. Kakiku gemetar, begitupun bibirku. Dingin. Tak terasa aku mulai menangis.

Diantara semua yang dingin detik itu, hanya pipiku yang panas oleh airmata. Hujan semakin deras, petir mulai berkurang. Tangisanku masih berlanjut. Sepertinya aku harus menerabas hujan ini, namun aku takut sakit. Aku tak tega Ibu mengeluarkan uang untuk mengurusi sakit karna kebodohanku, untuk makan saja sudah terlalu susah.

Sungguh, yang kubutuhkan hanya wajah itu. Wajah yang ingin kujemput sedaritadi, wajah yang aku tunggu kepulangannya sejak tiga jam yang lalu. Aku khawatir.

Hujan deras melenyapkan senja. Dari balik hujan yang tak kunjung reda, sayup-sayup adzan maghrib masih terdengar. Aku bergegas masuk ke dalam rumah dengan berat. Aku berbalik sekali, namun wajah itu belum muncul juga.

Aku Sedang Menunggu

Aku sedang menunggu. Aku menunggu seseorang biasa. Yang memiliki hati lapang dan ikhlas menempatkan seluruh hatiku disana. Hati yang kupercayakan untuk ia jaga, untuk ia obati, untuk ia lindungi seperti bayi yang baru lahir. Bukan ia yang memiliki hati lapang sehingga menempatkan banyak hati disana. Bukan. Aku hanya ingin dia yang biasa.

Aku sedang menunggu. Aku menunggu dia yang tahu kalau aku cengeng, tapi tetap mencintaiku. Sehingga berusaha agar aku tidak menangis, kalaupun cengengku kumat, dia adalah orang pertama yang menghancurkan airmata ku dengan punggung tangannya.

Dia yang terima aku kalah cantik dari perempuan lain. Dia yang biasa saja, yang punya naluri lelaki dalam mengagumi keindahan perempuan. Tanpa kupaksakan menanggapku yang tercantik di matanya. Karna aku tahu itu tak mungkin. Tapi ia tetap mencintaiku.

Aku sedang menunggu. Aku menunggu dia yang menjadikanku rumah untuknya pulang. Dia yang marah-marah membuang kekesalannya sebab harus mendorong motor yang mogok sepanjang satu kilometer untuk menambal ban, kemudian menutup keluhnya dengan tersenyum dan kata terima kasih yang manis. Dia yang jika tak berkabar seharian kemudian pada malam hari meneleponku untuk bertanya ‘Bagaimana harimu?” dan mengantarkanku tidur dengan sekadar kata selamat tidur.

Saya Itu...

Sebenarnya saya nggak tahu mau nulis apa. Saya teringat saat saya membaca sebuah website yang membahas 100 fakta tentang Zayn Malik. Mulai dari tanggal lahirnya, makanan kesukaan, sampai segala hal kecil tentang dirinya. Ya, itu karna dia artis. Tapi entah kenapa ingin sekali bikin yang kaya begitu. Jadi ceritanya postingan kali ini ya tentang saya semua. Walaupun nggak sampai 100, tapi inilah 100 fakta (kurang) tentang Feby. Hingga kalimat terakhir dari paragraf ini selesai saya tulis, saya sudah senyam senyum sendiri berasa artis.

Saya Febiola Aditya Yusuf. Satu dari jutaan perempuan di dunia yang lahir pada hari Kamis, itu sebabnya saya menyukai hari Kamis. Hari keseimbangan, berada di tengah-tengah dari ketujuh hari dalam seminggu.

Saya itu lahir tanggal 25 Agustus 1994. A Virgoist. Feminim? Hemm...

Saya itu nggak pernah suka boneka, menurut saya mereka itu menghabiskan tempat saja.

Saya itu suka membaca segala jenis novel kecuali novel horror, segala jenis. Mulai dari yang bisa dibaca sambil mendengarkan musik, sampai yang membutuhkan kerutan kening untuk memahami isinya.

Saya agak malas membaca buku pelajaran, saya lebih suka mencatat intisari dalam buku tersebut ke buku catatan kemudian memahami dan menghapal jika ada ujian. Jika dalam keadaan terpaksa harus menghapal melalui buku pelajaran langsung, saya menghabiskan waktu agak lama. Ya, saya menghapal pelajaran dengan menuliskannya terlebih dahulu.

Di bangku sekolah, saya paling suka pelajaran Bahasa Inggris dan sangat amat tidak suka Fisika.

(Tak) Mustahil



Pernah ku tampung air hujan di atas daun talas. 
Tapi ingatkah kau pepatah ‘bagaikan air di daun talas' yang dulu ada di pelajaran sekolah dasar? 
Mustahil. 
Namun dengan bodohnya tetap kulakukan.

Kau tahu sulitnya berdamai dengan hari yang tanpamu? 
Seperti kedua tanganku dilekatkan barbel sambil memanjat pinang pada perayaan hari kemerdekaan. 
Berat sekali. 
Namun aku masih punya kamu di dalam ingatan untuk kutemui suatu hari nanti.

Tak mudah memaksa matahari buru-buru tergelincir dan bulan kembali ke singasananya. 
Sebab suatu hari itu datang hari ini, matahari menginjak daun pisang dan bulan ingin cepat pulang. 
Satu hari berjalan sekelebat mata, satu tarikan napas.

Hingga kini tak mustahil lagi kutampung air di daun talas.  
Aku bukan orang bodoh walau aku tak ada lelahnya menanti. 
Karna aku mencintaimu. 
Dan karna dengan cinta, aku mendorong logika jatuh ke jurang terdalam.