Yang Terabaikan

Aku rindu kamu. Sangat. Tapi aku tahu kamu tidak rindu aku. Lantas aku telan kembali kerinduan itu. Aku hanya ingin membuatmu tertawa, tersenyum, bahagia! Apa itu salah? Ya, dan ternyata usahaku sia-sia. Tak berarti bagimu. Kau hilang lagi, selalu seperti ini. Aku tak mengharapkan balasan apapun, ucapan terima kasih, atau apapun, kau tahu? Kalau kau mau menghilang, lebih baik dari awal tak usah muncul. Kau buat aku bahagia dan sakit dalam durasi yang kilat, cepat, dahsyat! Aku lelah, aku lelah, aku lelah, aku lelah, aku lelah, aku lelah, aku lelah. LELAH!

(Abaikan J  hanya perasaan hati seseorang nun jauh disana yang saya sendiri juga tak tahu siapa dia, yang sedang terbaring lemah dengan kening yang panas persis kayu bakar. Yang terabaikan.)
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...

Alfi dan Gara

Alfi: "Gara... "
Gara: "Alfi... "
Alfi: "Seharusnya kau bertanya ‘ada apa’ bukannya memanggil balik namaku."
Gara: "Haha, maaf. Aku terlalu suka menyebut namamu. Ya, ada apa?"
Alfi: "Aku menangis lagi."
Gara: "Aku marah, Fi."
Alfi: "Kenapa? Setiba-tiba ini? Tanpa alasan? Kau mau membuatku makin menangis dan terpuruk? Jahat."
Gara: "Lebih jahat mana kau yang menyakiti dirimu sendiri?"
Alfi: "Aku tidak... Hhh, ya aku menyakiti diriku lagi, Ra.”
Gara: "Air matamu terlalu berharga untuk pria itu, pria yang tak menyadari mujizat telah begitu dicintai oleh perempuan seindah kau. Yang tak benar-benar peduli padamu, sampai kapan kau cukupkan kesabaranmu menantinya?"
Alfi: "Aku mencintainya dan akan selalu begitu."
Gara: "Ketahuilah, bahuku selalu ada untukmu menumpahkan butir mutiara itu, Fi."

04 November 2011

Sore yang hujan. Aku sedang duduk di angkutan kota, dengan tubuh yang begitu lelah, dari sekolah menuju rumah. Masih begitu pusing kepalaku karna sakit ini, dan aku yakin sebentar lagi sakit ini akan bertambah parah karna tubuhku yang terguyur hujan. Tak ada satu penumpang pun yang menemani. Hari ini hujan turun seharian, hujan selalu mengerti perasaanku, ia menemani dalam lirih dalam rindu.

Aku selalu suka hujan. Aku suka membenamkan diri dibalik jaket atau selimut tebal. Aku suka menggambari jendela berembun. Seperti telunjukku menulis namamu sekarang, di kaca. Kuhapus lagi karena malu. Tapi lalu kuulangi. Kupandangi nama itu, nama yang selalu sanggup aku katakan. Tidak lama namamu memudar, seperti kau hari ini. Aku kecewa.

Kubuka lebih lebar kaca, aku menghirup napasku lebih dalam, menikmati petrichor yang memenuhi paru-paru (kau tahu apa itu? Bau khas yang muncul saat dan setelah hujan, seperti bau tanah basah. Hei, aku kan sudah memberitahumu, ya. Aku sangat suka bau itu, tapi masih lebih menyukai bau mu). Tanganku mengambil ponsel di kantung celanaku.

Hujan, aku rindu. – Hapus
Besok mau ke rum – Hapus
Lagi dima – Hapus

Lima detik. Sepuluh detik.

“Lebih baik kusimpan saja rindu ini dalam-dalam.”
Aku memejam.

Dear Fach...


Wahai kau yang terlalu jauh untuk ku jangkau...
Entah apa alasan kita jadi kubu yang berbeda. Aku yang mencintaimu dan kamu yang cuma diam. Ingat rasanya bangun cepat-cepat pada tiap pagi karena tak sanggup menahan rindu yang meraksasa? Kita pernah berbicara dengan hangat dan saling menyapa tiap pagi. Tertawa bersama saat siang dan bertukar cerita seharian saat malam sampai salah satu dari kita tertidur. Tapi tak tahu bagaimana kisahnya kita bisa menjadi jauh. Rindu kadang butuh didengarkan, bukan?

Tertanda,
Yang mencintaimu dalam sakitnya.
"Be my flower. Let me save you in my sorrow, Fach..."